Tips Kopi Chuseyo Saat Hadapi Pandemi 2 Tahun Terakhir
Sektor kuliner menjadi salah satu sektor yang kena pukulan berat pandemi Corona. Para pebisnis kuliner harus memutar otak agar usahanya bertahan dan tetap jalan.
CEO Kopi Chuseyo Daniel Hermansyah mengakui hal tersebut. Menurutnya, bisnis tak selalu mulus. Banyak hal-hal terjadi yang membuatnya naik-turun.
"Intinya, sebagai CEO harus bisa bergerak cepat dan mengikuti perkembangan zaman. Misalnya, dahulu Instagram hanya aplikasi untuk berbagi foto, lalu berubah menjadi aplikasi untuk berbagi video singkat (reels). Kita harus paham hal tersebut, jangan berkukuh dengan cara lama. Kunci agar bisnis bisa bertahan di tengah pandemi adalah harus cepat beradaptasi, kalau bisa kita ikut terjun membuat konten agar lebih paham," ujar Daniel
Sosial media adalah penyelamat bisnisnya. Fenomena 'stay at home' membuat tren belanja kuliner bergeser yang tadinya mayoritas offline (dine in) menjadi online. Usaha kuliner yang tidak mengadaptasi halo ini akan ketinggalan.
Dikatakan Daniel, dirinya mengunggah konten-konten di media sosial yang sesuai target market. Sejak awal, Daniel mem-branding produk kopinya adalah kopi K-Pop. Karena itu, salah satu caranya adalah mengunggah konten yang terkait dengan artis K-Pop. Hal tersebut berbuah manis, membuat pengikut Instagram Kopi Chuseyo meningkat.
"Saya merasakan ada stagnansi di medsos kami. Karena itu, di bulan Maret ini saya membut gebrakan dengan menghapus semua unggahan di instagram kami dan mulai mengunggah konten-konten reels yang sesuai keinginan target market. Hasilnya, konten kami sering di-notice dan di-repost oleh berbagai artis K-pop," ujar Daniel.
Daniel merintis Kopi Chuseyo pada tahun 2019. Kedai pertamanya didirikan di Gading Serpong, Tangerang. Kini Chuseyo sudah memiliki puluhan cabang hampir di seluruh Indonesia.
Berdasarkan proyeksi internal, penambahan bidang usaha olesan cokelat dan susu kemasan akan menghasilkan keuntungan dan memberikan dampak keuangan positif mulai tahun 2024.
Kontribusi bidang usaha olesan cokelat dan susu kemasan pada tahun 2024 diharapkan sudah mencapai sekitar 6% terhadap pendapatan tahun 2021 dan sekitar 3% terhadap laba kotor tahun 2021.
Sedangkan untuk menjalankan usaha olesan cokelat dan susu kemasan di tahun 2024 diperkirakan menggunakan sekitar 1% Ekuitas per 31 Desember 2021.


