Produsen Sari Roti Rambah Dua Bisnis Baru Untuk Percepat Omzet
Tangkap peluang bisnis, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) berencana menambah kegiatan usaha atau bisnis baru pada sektor makanan olesan cokelat dan susu kemasan.
Manajemen ROTI menjelaskan, penambahan lini usaha ini dilakukan untuk meningkatkan kinerja perseroan dan juga menangkap pasar produk olesan cokelat dan susu kemasan yang besar di Indonesia.
Untuk produk olesan cokelat, emiten produsen roti segmen masal dengan merek "Sari Roti" ini akan melakukan produksi sendiri dengan memanfaatkan investasi pabrik olesan cokelat yang sedang dalam tahap pembangunan serta didukung oleh tenaga kerja yang kompeten.
“Sedangkan untuk produk susu kemasan, akan di produksi oleh pihak ketiga, yaitu pabrik susu yang sudah sangat berpengalaman dalam memproduksi susu kemasan," jelas manajemen ROTI dalam keterangan tertulis di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Manajemen menambahkan, rencana penambahan bidang usaha perseroan memberikan nilai tambah berupa tambahan pendapatan dan laba dari produk olesan cokelat dan susu kemasan serta ekspansi bisnis yang sejalan dengan bisnis utama roti.
Selain itu, perseroan memahami pola kebutuhan konsumen Indonesia akan makanan dan minuman dalam kemasan yang mudah didapatkan, terjamin kualitas maupun freshness produk tersebut sebagai jenis atau kategori produk yang lebih sehat.
"Perseroan nantinya akan menghadirkan produk olesan cokelat dan susu kemasan yang memiliki 2 ukuran kemasan, yang diharapkan bisa menjadi pilihan utama untuk semua kalangan,” jelas manajemen.
Adapun belum lama ini, emiten produsen Sari Roti tersebut berencana melanjutkan aksi pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp 227,27 miliar. Rencana pembelian kembali saham untuk periode 5 ini akan dilakukan dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan.
"Pembelian kembali saham perseroan akan dilaksanakan mulai tanggal 21 April 2022 hingga 20 Juli 2022," kata Direktur PT Nippon Indosari Corpindo Arlina Sofia.
Arlina mengungkapkan, pihaknya berencana melakukan pembelian kembali maksimum 133,69 juta saham dengan nilai Rp 227,27 miliar. "Perseroan membatasi harga pembelian saham sebesar maksimum Rp 1.700 per saham," ujar dia.


