Indonesia Punya Potensi Besar, Tapi Ekosistem Bisnis Belum Siap
INFO OPPORTUNITY.ID-Indonesia dikenal sebagai salah satu pasar terbesar dan paling menjanjikan di Asia Tenggara. Namun, potensi ini belum sepenuhnya bisa dimanfaatkan karena belum matangnya ekosistem pendukung bisnis dan inovasi. Hal ini disampaikan oleh Founder & CEO PowerCommerce.asia, Hadi Kuncoro.
Menurut Hadi, Indonesia memiliki modal kuat dalam hal populasi, penetrasi digital, serta meningkatnya daya beli masyarakat. Sayangnya, ketika berbicara mengenai kesiapan ekosistem untuk menunjang pertumbuhan bisnis inovatif atau startup, masih banyak tantangan struktural yang perlu dibenahi.
“Indonesia ini sebenarnya peluangnya besar banget. Tapi masalahnya bukan soal idenya, tapi ekosistemnya yang sering belum mendukung,” ungkap Hadi.
Tiga Masalah Utama: Talenta, Regulasi, dan Modal
Dalam perbincangan yang berlangsung hampir dua jam, Hadi menyoroti tiga tantangan utama yang kerap menghambat percepatan pertumbuhan bisnis berbasis inovasi di Tanah Air. Tantangan tersebut meliputi keterbatasan talenta digital yang siap pakai, regulasi yang tidak responsif terhadap dinamika zaman, serta minimnya akses pendanaan tahap awal (early stage).
“Investor kadang mau masuk, tapi prosesnya ruwet. Belum lagi urusan legal yang membingungkan. Founder-nya udah semangat, tapi tersandung di hal-hal teknis yang sebenarnya bisa disederhanakan,” tambahnya.
Ia juga menyoroti lemahnya dukungan ekosistem kolaboratif. Banyak startup menjanjikan gagal berkembang karena kurangnya jaringan, pendampingan, dan akses terhadap pasar yang lebih luas.
Kolaborasi dan Reformasi Jadi Kunci
Sebagai solusi, Hadi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, swasta, akademisi, dan komunitas pelaku industri. Ia mendorong hadirnya lebih banyak program inkubasi dan akselerasi yang benar-benar memberikan nilai tambah dan bukan sekadar formalitas.
Ia juga mengajak korporasi besar untuk mengambil peran sebagai venture builder dan membuka diri terhadap kolaborasi dengan startup melalui pendekatan co-creation.
“Kita butuh corporate yang berani investasi ke inovasi lokal, bukan cuma cari vendor murah. Harus ada mindset bahwa kolaborasi bisa menciptakan pasar baru yang lebih besar,” tegas Hadi.
Meski tantangannya besar, Hadi tetap optimis. Menurutnya, dengan reformasi struktural dan kolaborasi nyata, Indonesia punya peluang besar untuk menjadi pusat inovasi dan startup terdepan di kawasan Asia Tenggara. Namun, ia juga mengingatkan bahwa waktu menjadi faktor krusial.
“Peluangnya gede banget. Tapi jangan sampai kita sibuk berdebat regulasi, sementara negara lain udah melaju,” tutupnya.


