Dari Gerobak Pinjaman ke Jaringan Waralaba: Langkah Berani Putu Agus Indra Wahyudi Membangun Usaha dari Nol
Alvin Ardian Pratama | 09-02-2026 14:44 WIB 52 readers
INFO OPPORTUNITY.ID-Perjalanan wirausaha Putu Agus Indra Wahyudi adalah potret nyata tentang keberanian memulai dari keterbatasan, ketekunan belajar tanpa henti, serta kecermatan membaca peluang di tengah tantangan. Apa yang ia capai hari ini bukan hasil instan, melainkan buah dari proses panjang yang dimulai dari langkah paling sederhana.
Titik awal kisahnya terjadi pada 2016. Saat itu, Putu Agus belum memiliki gerobak, merek, apalagi sistem usaha yang matang. Modal utamanya hanya tekad. Ia memanfaatkan gerobak milik seorang teman untuk berjualan sosis dan es krim di berbagai event kuliner di Denpasar.
Gerobak tersebut ia tempeli merek buatannya sendiri setiap kali berjualan, lalu dilepas kembali setelah selesai. Pola itu ia jalani selama kurang lebih tiga bulan. Dari aktivitas itulah ia mulai memahami ritme pasar, selera konsumen, hingga dinamika berjualan di lapangan—sebuah “sekolah bisnis” yang ia jalani secara langsung.
Memasuki bulan keempat, muncul rasa tidak enak hati karena terus meminjam gerobak. Dari hasil menabung selama rutin ikut event akhir pekan—mulai dari Lapangan Puputan hingga area kampus—ia akhirnya mampu membuat gerobak sendiri. Bagi pria kelahiran Busungbiu, Buleleng, 27 April 1993 ini, momen tersebut menjadi pijakan awal untuk berdiri lebih mandiri.
Tergerak dari Kisah Pahit UMKM
Di tengah proses merintis, Putu Agus menyaksikan kisah pahit yang menimpa sesama pelaku UMKM. Seorang rekan tertipu tawaran franchise fiktif—uang hilang, merek tidak jelas, dan komunikasi terputus. Peristiwa itu membekas di benaknya.
Dari sana muncul gagasan untuk menghadirkan konsep kemitraan yang lebih aman dan transparan, dirancang oleh pelaku usaha lokal yang memahami kondisi di lapangan. Ia mulai mempelajari sistem waralaba secara otodidak, sembari mengembangkan produk awal bertajuk Suka Suka Es Krim dan Suka Suka Es Teh. Respons pasar cukup baik dan memberinya kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh.
Belajar dari Nol di Bisnis Fried Chicken
Tahun 2017 menjadi fase baru. Putu Agus memutuskan masuk ke segmen yang lebih kompetitif: ayam goreng cepat saji. Padahal, ia tidak memiliki latar belakang di bidang kuliner fried chicken. Semua dipelajari sambil berjalan.
Materi promosi kemitraan pertamanya pun dibuat secara sederhana. Ia mengambil referensi umum, menyesuaikannya dengan identitas merek sendiri, lalu menyebarkannya melalui marketplace. Tak disangka, ada calon mitra yang tertarik dan meminta survei lokasi.
Dari situlah kemitraan pertamanya terwujud. Keberanian menawarkan konsep usaha, meski dengan modal terbatas, justru membuka pintu pertumbuhan.
Lahirlah SUKA Fried Chicken di bawah naungan Suka Jaya Indonesia dengan skema kemitraan senilai Rp115 juta. Seiring waktu, bisnis berkembang signifikan. Dari satu gerai, kini SUKA Fried Chicken telah hadir dalam 21 gerai yang tersebar di berbagai kabupaten di Bali.
Merangkul UMKM Lewat Konsep Lebih Terjangkau
Tak ingin pertumbuhan hanya dinikmati segelintir pihak, Putu Agus juga merancang konsep yang lebih ramah bagi pelaku UMKM kecil. Ia menghadirkan AKA Fried Chicken, gerai berbasis container dengan biaya kemitraan sekitar Rp22 juta, sudah termasuk booth, peralatan, dan bahan awal.
Nama “AKA” dipilih sebagai turunan dari “SUKA” dan telah terdaftar secara resmi di DJKI Kemenkumham, menunjukkan keseriusannya membangun merek yang berkelanjutan.
Membangun Bisnis Sekaligus Menciptakan Dampak
Selain fokus pada pertumbuhan usaha, Putu Agus juga aktif di organisasi kepemudaan. Ia pernah menjabat Secretary General JCI Bali 2025 dan pada 2026 mengemban amanah sebagai Executive Vice President JCI Bali. Baginya, bisnis bukan sekadar soal keuntungan, tetapi juga tentang membuka lapangan kerja dan memberi ruang bagi generasi muda untuk berkembang.
Ia pun terbuka bagi siapa saja yang ingin berdiskusi atau berkonsultasi sebelum memulai usaha. Prinsipnya sederhana: pengalaman jatuh bangun yang pernah ia alami bisa menjadi pelajaran berharga bagi orang lain.
Dari gerobak pinjaman hingga jaringan waralaba, perjalanan Putu Agus Indra Wahyudi menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah. Dengan kemauan belajar, keberanian mencoba, dan konsistensi, peluang bisa tumbuh dari titik yang paling sederhana sekalipun.


