Wamendag Dorong UMKM Pahami Preferensi Konsumen Global untuk Tembus Pasar Ekspor

 INFO OPPORTUNITY.ID– Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) didorong untuk memahami preferensi konsumen di negara tujuan ekspor agar produk yang ditawarkan lebih sesuai dengan selera pasar global. Langkah ini dinilai krusial dalam meningkatkan daya saing dan skala usaha di pasar internasional.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri saat mengunjungi UMKM Tenun Medali Mas di Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul, Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (18/7). Kunjungan tersebut turut didampingi Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati dan Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag, Ari Satria.

“Karakteristik konsumen tiap negara berbeda. Misalnya, kain bercorak dari Indonesia diminati di Afrika, tetapi di Eropa, masyarakat lebih menyukai tenun yang dipadukan dengan bahan polos,” ujar Roro.

IBOS Expo 2026

Menurutnya, pemahaman terhadap karakter pasar memungkinkan pelaku UMKM merancang strategi pengembangan produk dan pemasaran yang lebih tepat sasaran. Produk yang sesuai preferensi konsumen akan lebih mudah diterima, memperluas akses pasar, serta meningkatkan volume penjualan dan loyalitas pelanggan.

Perkuat Sinergi dengan Perwakilan Perdagangan

Dalam kunjungannya, Wamendag juga mendorong pelaku UMKM untuk memanfaatkan peran 46 perwakilan perdagangan (perwadag) di 33 negara sebagai jembatan menuju pembeli potensial melalui agenda business matching. Perwadag juga dapat menjadi sumber informasi strategis terkait dinamika pasar luar negeri.

IBOS Expo 2026

Roro turut berdialog dengan pendiri UMKM Medali Mas, Siti Ruqoyah, yang saat ini mempekerjakan 15 perempuan perajin. Siti berharap adanya regenerasi dan dukungan berkelanjutan dari pemerintah.

“Kami juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Kediri yang mewajibkan penggunaan tenun ikat sebagai pakaian kerja melalui Instruksi Wali Kota Kediri Nomor 4 Tahun 2010. Harapannya, sinergi pusat dan daerah dapat terus ditingkatkan,” ujarnya.

Kampung Tenun dengan Warisan Sejarah Panjang

IBOS Expo 2026

Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul merupakan sentra kerajinan tenun yang telah dikenal sejak masa Kerajaan Kediri pada abad ke-11. Perkembangannya kian pesat sejak era 1950-an, ketika pengusaha Tionghoa mulai memperkenalkan pola-pola baru dan memperbanyak alat tenun bukan mesin (ATBM).

Hingga kini, terdapat lebih dari 400 perajin yang mengoperasikan sekitar 150 ATBM manual. Produk tenun tidak hanya berupa kain, tetapi telah berkembang menjadi berbagai produk fesyen dan aksesori seperti sarung, pakaian, dompet, tas, syal, sepatu, dan suvenir.

Beberapa produk telah menembus pasar Timur Tengah dan Singapura, meski masih memerlukan penguatan strategi pemasaran global.

IBOS Expo 2026

Destinasi Edukatif dan Budaya

Kampung ini juga berkembang sebagai desa wisata dengan berbagai atraksi budaya seperti Jaranan Unyil, homestay, kuliner khas seperti tahu takwa dan teh bunga telang, serta paket wisata edukatif terkait proses pembuatan tenun.

Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Dekranasda, dan dukungan akademisi turut berperan dalam peningkatan kualitas produk, pencitraan merek, serta penguatan strategi pemasaran bagi pelaku UMKM.

IBOS Expo 2026

Dengan kolaborasi yang kuat antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat, produk lokal seperti tenun ikat Kediri berpotensi besar menjadi bagian dari wajah industri kreatif Indonesia di kancah global. (*)

Video Pilihan dari INFOBRAND TV
DISCLAIMER
Media INFO OPPORTUNITY tidak bertanggungjawab atas segala bentuk transaksi yang terjalin antara pembaca, pengiklan, dan perusahaan yang tertuang dalam website ini. Kami sarankan untuk bertanya atau konsultasi kepada para ahli sebelum memutuskan untuk melakukan Kerjasama bisnis.

Member of:

Supported By: