Sumber yang mengetahui rencana tersebut mengungkapkan bahwa Chagee telah memulai pembicaraan dengan sejumlah bank investasi. Jika terealisasi, IPO ini diproyeksikan mampu menghimpun dana hingga ratusan juta dolar AS dan berpotensi dieksekusi pada 2026, meskipun keputusan final masih menunggu persetujuan regulator dan hasil pembahasan internal perusahaan. Langkah ini menjadi kelanjutan dari aksi korporasi Chagee sebelumnya yang sukses melantai di bursa Amerika Serikat pada 2025, yang kala itu turut mengantarkan sang pendiri dan CEO, Zhang Junjie, menjadi miliarder di usia 30 tahun.
Didirikan pada 2017 di Provinsi Yunnan, Chagee memposisikan diri sebagai pemain teh susu premium dengan mengandalkan racikan tradisional khas China. Hingga akhir September, perusahaan telah mengoperasikan lebih dari 7.300 gerai, terutama di pasar domestik China. Skala bisnis ini menegaskan kuatnya sistem operasional, manajemen rantai pasok, serta daya tarik merek di tengah persaingan industri minuman siap saji yang semakin ketat.
Meski demikian, tantangan bisnis tetap membayangi. Saham Chagee di Amerika Serikat tercatat turun lebih dari 50% sejak pencatatan pada April 2025, dengan nilai kapitalisasi pasar kini berada di kisaran US$ 2,5 miliar. Pada kuartal ketiga, pendapatan perusahaan turun 9,4% menjadi sekitar US$ 450 juta, sementara laba bersih anjlok lebih dari 35% akibat perang harga dan tekanan dari platform pengiriman makanan berbiaya rendah di China. Kondisi ini menunjukkan bahwa skala besar tidak selalu imun terhadap dinamika pasar.
Namun dari sudut pandang peluang bisnis, situasi tersebut justru membuka ruang strategis. Model bisnis Chagee membuktikan bahwa produk berbasis budaya lokal, seperti teh tradisional, dapat naik kelas menjadi komoditas premium dengan nilai ekonomi tinggi jika dikemas modern dan terstandarisasi. Bagi pelaku usaha di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, ini menjadi inspirasi untuk mengembangkan brand minuman lokal, memperkuat diferensiasi, serta memanfaatkan skema kemitraan, waralaba, atau ekspansi lintas negara.
Di sisi lain, momentum pasar modal Hong Kong juga memperkuat optimisme. Setelah mencatat kinerja solid sepanjang 2025, Hong Kong diproyeksikan mencatat periode pencatatan saham yang sangat agresif. Bahkan KPMG memperkirakan total dana IPO di Hong Kong dapat mencapai hingga US$ 45 miliar pada 2026. Meski mayoritas berasal dari sektor teknologi dan kecerdasan buatan, kehadiran Chagee menunjukkan bahwa sektor consumer goods dan gaya hidup masih memiliki daya tarik besar di mata investor global.
Pada akhirnya, rencana IPO Chagee di Hong Kong bukan sekadar manuver finansial, melainkan cerminan besarnya potensi industri minuman premium berbasis tradisi. Bagi pengusaha, kisah ini menegaskan bahwa inovasi, konsistensi brand, dan keberanian berekspansi dapat mengubah produk sederhana menjadi bisnis bernilai miliaran dolar, bahkan di tengah tekanan dan persaingan yang semakin sengit.