Melirik Bisnis Royal Crepes yang Masih Eksis di Tengah Pandemi
Sebelum melihat peluang bisnisnya, saya ingin mengajak Anda melihat perjalanan seorang pebisnis crepes yang berhasil sukses hingga kini. Dialah Ferry Kurnia yang kini menjadi juragan bisnis waralaba Royal Crepes.
Menurut Ferry, bisnis ini dilakukannya karena anggapan bahwa bisnis makanan dapat langsung menghasilkan uang.
“Awalnya saya ini buka percetakan selama 8 tahun, tapi bangkrut, lalu saya berpikir bisnis apa ya yang langsung bisa menghasilkan uang, ya makanan kan,” jelasnya.
Meski diawali dengan setengah iseng dan hanya didasarkan atas hobi bersama istrinya, namun siapa sangka bisnis ini berjalan dengan lancar.
Ferry mengenang masa-masa silam saat merintis bisnis suksesnya ini, “Awalnya 2005, iseng jualan di rumah, di halaman. Hobi juga masak dengan istri, lalu punya ide buat crepes,”kenangnya.
Ferry menjelaskan bahwa bisnis ini dimulainya hanya dengan modal awal sebesar Rp 600.000 dan peralatan seadanya.
“2005 modal awal Rp 600.000 dengan alat seadanya, peralatan dapur istri saya. Lalu kita jual kisaran Rp 2.000 – Rp 3.500. Untuk omsetnya Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per hari dan perbulan kira-kira Rp 6 juta, dan itu belum ada karyawan ya. Kita ini segmennya kelas menengah ke bawah ya. Dari situ kita lihat tanggapan tetangga sekitar sangat baik, ”jelasnya.
Ferry juga menceritakan kendala awal yang ia hadapi ketika pertama kali mencoba bisnis makanan ini.
“Kendala awalnya di 3 bulan pertama itu kita masih coba-coba rasa yang tepat, dulu rasanya hanya 2, keju dan cokelat saja. Menu pertama itu crepes isi keju dan cokelat sekarang sudah ada 32 rasa. Kita bereksperimen dari strawberry nah dari situ kita juga coba menjadikan ke blueberry dan semacamnya,”katanya.
Tapi ternyata bisnis ini memperoleh tanggapan baik dari masyarakat sekitar sehingga Ferry mulai mengembangkan bisnisnya di tempat-tempat lain, seperti di tempat rekreasi untuk hari Sabtu dan Minggu.
Ferry pun berkisah bahwa dirinya masih berusaha sendiri tanpa karyawan pada saat itu.
Namun bisnis ini terus berkembang sehingga pada tahun 2007 Ferry mulai berkenalan dengan dunia bisnis waralaba dari pameran yang diikutinya, dan siapa sangka dia mendapat banyak mitra yang ingin bergabung.
“Waktu itu (2005) kita belum kenal sama franchise, kemudian di tahun 2007 ada pameran franchise, kita coba disitu dengan kita buat konsepnya. Ternyata banyak mitra yang berminat dan banyak sekali yang gabung. Sekarang kita sudah ada dari Sabang sampai Merauke, jumlahnya 1000 outlet,”pungkasnya.


