Lebih dari 25.000 Guru Bergerak Bersama di Wardah Inspiring Teacher Gen 8, Dari Kelas Lahirkan Kebaikan Tanpa Batas
INFO OPPORTUNITY.ID-Aula Sasana Budaya Ganesha (SABUGA) di kawasan Institut Teknologi Bandung dipenuhi energi yang berbeda dari biasanya. Sekitar 1.000 guru hadir secara langsung, sementara puluhan ribu lainnya mengikuti secara daring dan melalui nonton bareng di sembilan kota. Secara keseluruhan, lebih dari 25.000 guru dari 38 provinsi menyatukan semangat dalam gelaran Wardah Inspiring Teacher (WIT) Generation 8.
Memasuki tahun kedelapan, inisiatif yang diinisiasi oleh ParagonCorp ini telah melampaui format pelatihan konvensional. WIT berkembang menjadi gerakan nasional yang konsisten memperkuat peran guru sebagai penggerak perubahan. Sejak pertama kali diselenggarakan, program ini telah menjangkau lebih dari 36.000 pendidik di seluruh Indonesia.
Mengusung tema “Dari Kelas untuk Kebaikan Tanpa Batas”, WIT Gen 8 menegaskan keyakinan bahwa transformasi bangsa kerap bermula dari ruang-ruang belajar yang sederhana—dari relasi yang terbangun antara guru dan murid setiap harinya.
Pendidikan sebagai Fondasi Peradaban
Dalam sambutannya, Salman Subakat, CEO Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute, menekankan bahwa pembangunan bangsa tidak bisa dilepaskan dari pembangunan manusianya.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi dan bisnis bukanlah titik awal kemajuan. Fondasi sesungguhnya terletak pada pendidikan yang bermakna. Guru, dalam konteks ini, memegang peran sebagai arsitek peradaban. Investasi pada pengembangan manusia melalui pendidikan dinilai sebagai langkah strategis untuk menciptakan Indonesia yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Pandangan tersebut mempertegas posisi pendidikan sebagai elemen utama kesejahteraan bangsa, bukan sekadar isu sektoral. Bagi Paragon, penguatan kapasitas guru merupakan investasi jangka panjang dengan dampak lintas generasi.
Kolaborasi Strategis Bersama ITB
Tahun ini, kolaborasi strategis dijalin bersama Institut Teknologi Bandung. Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, menyampaikan bahwa kualitas pendidikan tinggi tidak dapat berdiri sendiri tanpa fondasi pendidikan dasar dan menengah yang kokoh.
Ia menegaskan bahwa penguatan guru menjadi agenda penting bagi masa depan bangsa. Melalui kerja sama ini, ITB mendorong agar proses belajar berkelanjutan yang dijalani para guru memperoleh pengakuan akademik yang setara dan terstruktur.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui program micro-credential bagi alumni WIT, khususnya guru Rumah Belajar WIT. Pembelajaran yang mereka tempuh dapat dikonversi menjadi satuan kredit semester (SKS) dan diakui sebagai bagian dari jalur pendidikan lanjutan di ITB. Langkah ini menjadi jembatan penting dalam membangun kesinambungan antara pendidikan dasar, menengah, dan tinggi.
Lima Bulan, Tiga Tahap Transformasi
WIT Gen 8 dirancang dalam kurun waktu lima bulan dengan tiga fase pengembangan yang sistematis.
Tahap pertama: Penjelajah Makna (1 bulan).
Guru diajak merefleksikan identitas, nilai, dan tujuan melalui modul Guru Belajar serta kepemimpinan Perimpin Belajar. Fase ini menekankan kesadaran diri sebagai fondasi perubahan.
Tahap kedua: Penenun Aksi (2 bulan).
Peserta mengikuti pelatihan Design Thinking dan Project-based Learning (PjBL). Pada tahap ini, guru tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga merancang dan menerapkan proyek nyata di kelas masing-masing.
Tahap ketiga: Pemantik Inspirasi (2 bulan).
Guru mendokumentasikan praktik baik dan membagikan kisah transformasi melalui platform digital maupun forum kolaboratif. Tujuannya agar inspirasi tidak berhenti di satu ruang kelas, tetapi menyebar lebih luas.
Selain itu, tersedia Program Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi Guru berbasis AI, Data, dan STEMBA (Microcredential Class) bagi alumni terpilih. Program ini memperkuat literasi teknologi serta pendekatan pembelajaran berbasis data, sekaligus memberikan pengakuan formal atas proses belajar berkelanjutan yang mereka jalani.
Guru sebagai Aktor Utama Perubahan
Dukungan pemerintah turut memperkuat ekosistem kolaborasi. Temu Ismail, Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen RI, menegaskan bahwa transformasi pendidikan nasional tidak cukup hanya melalui revisi kurikulum atau regulasi.
Menurutnya, guru harus ditempatkan sebagai aktor utama perubahan, bukan sekadar pelaksana kebijakan. Karena itu, yang dibangun bukan hanya program jangka pendek, melainkan sistem yang memungkinkan guru terus belajar dan menjalankan perannya secara profesional dan bermakna.
Pesan ini sejalan dengan semangat WIT yang berfokus pada pembangunan sistem pendukung bagi pertumbuhan guru secara berkelanjutan.
Dari Ruang Kelas yang Sederhana
Sesi pembukaan juga menghadirkan talkshow inspiratif yang dimoderatori oleh Dewi Sandra. Beragam kisah dari para guru di berbagai daerah memperlihatkan realitas perjuangan di lapangan—menghadapi keterbatasan fasilitas, tantangan sosial, hingga akses teknologi.
Namun di balik tantangan tersebut, tersimpan daya tahan dan komitmen untuk terus bertumbuh. Angka puluhan ribu peserta bukan sekadar statistik, melainkan representasi individu-individu yang memilih untuk tetap belajar dan menginspirasi.
Memasuki tahun kedelapan, Wardah Inspiring Teacher menegaskan transformasinya sebagai gerakan jangka panjang. Ia tidak hanya menghadirkan pelatihan, tetapi membangun jejaring lintas wilayah, memperkuat solidaritas, dan mendorong budaya belajar sepanjang hayat.
Di tengah kompleksitas tantangan pendidikan nasional, perubahan tidak selalu lahir dari panggung besar atau kebijakan spektakuler. Ia bisa bermula dari papan tulis, dari dialog sederhana antara guru dan murid, dan dari keyakinan bahwa membangun manusia adalah fondasi sejati kemajuan bangsa.
Dari kelas yang mungkin sederhana, kebaikan tanpa batas itu terus menemukan jalannya.


