Kadin Beberkan Alasan UMKM Indonesia Sulit Naik Kelas, Kalah Jauh dari Korsel dan Jepang

INFO OPPORTUNITY.ID– Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Namun, kenyataannya masih banyak pelaku UMKM yang kesulitan untuk berkembang dan naik kelas. Hal ini diungkapkan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang menyoroti sejumlah faktor penghambat utama kemajuan UMKM di tanah air.

Menurut Kadin, UMKM Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara maju di Asia seperti Korea Selatan dan Jepang. Di kedua negara tersebut, UMKM mampu tumbuh pesat dan memiliki kontribusi signifikan terhadap ekspor serta inovasi teknologi. Sementara di Indonesia, pelaku UMKM masih menghadapi berbagai tantangan yang membuat mereka sulit menembus pasar yang lebih luas.

Beberapa penyebab utama yang disoroti antara lain adalah terbatasnya akses pembiayaan, rendahnya literasi digital dan keuangan, kurangnya pendampingan berkelanjutan, serta belum optimalnya regulasi yang mendukung ekosistem UMKM. Selain itu, banyak pelaku UMKM yang belum memiliki legalitas usaha, sehingga menyulitkan mereka untuk menjalin kemitraan strategis atau mendapatkan akses program pemerintah.

IBOS Expo 2026

Kadin menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, swasta, dan lembaga pendidikan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi UMKM. Salah satu upaya konkret yang perlu dilakukan adalah mendorong transformasi digital dan memperkuat rantai pasok lokal agar UMKM tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi juga pemain utama dalam perekonomian nasional.

Langkah-langkah strategis ini dinilai penting agar UMKM Indonesia bisa naik kelas, menjadi lebih kompetitif, dan berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Video Pilihan dari INFOBRAND TV
DISCLAIMER
Media INFO OPPORTUNITY tidak bertanggungjawab atas segala bentuk transaksi yang terjalin antara pembaca, pengiklan, dan perusahaan yang tertuang dalam website ini. Kami sarankan untuk bertanya atau konsultasi kepada para ahli sebelum memutuskan untuk melakukan Kerjasama bisnis.

Member of:

Supported By: