GETI Luncurkan Sertifikasi BNSP untuk Pendamping UMKM Digital
INFO OPPORTUNITY.ID-Transformasi digital UMKM membutuhkan lebih dari sekadar pelatihan singkat atau sosialisasi daring. Dibutuhkan pendamping yang tidak hanya memahami dunia digital, tetapi juga mampu bekerja langsung di lapangan.
Untuk itu, GETI Incubator menghadirkan Skema Sertifikasi Pendamping UMKM Digital berlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), sebagai jawaban atas kebutuhan lembaga pemerintah, swasta, dan komunitas terhadap SDM pendamping yang siap terjun langsung.
“Setelah sertifikasi, peserta bisa langsung mendampingi UMKM binaan dari dinas hingga swasta,” ujar Rachmat Wirasena Suryo, General Manager Academic GETI Incubator. Ia menegaskan bahwa program ini bukan hanya membentuk lulusan dengan pengetahuan teknis, tetapi menciptakan tenaga pendamping yang siap kerja dan mengerti kebutuhan usaha mikro secara konkret.
Skema pelatihan ini membekali peserta dengan kompetensi dasar dan lanjutan seperti asesmen digitalisasi UMKM, pembuatan konten, manajemen media sosial, pendaftaran di marketplace, penggunaan aplikasi keuangan, hingga penyusunan laporan perkembangan usaha. Materi berbasis SKKNI ini dikembangkan dari pengalaman lapangan tim GETI yang telah terlibat dalam ratusan program inkubasi dan pendampingan nasional.
Menurut laporan Outlook UMKM Indonesia 2025 yang dirilis Kemenkop UKM, lebih dari 70% program digitalisasi UMKM daerah mengalami hambatan eksekusi karena kurangnya tenaga pendamping terlatih. Banyak dinas, BUMN, hingga program CSR swasta memerlukan SDM yang bisa langsung turun membantu UMKM, tanpa perlu pelatihan ulang dari awal.
GETI menjawab kebutuhan ini dengan menerapkan pendekatan TauBisaJago, yaitu tahapan belajar dari memahami konteks (tau), menguasai keterampilan pendampingan teknis (bisa), hingga menjalani inkubasi pendampingan nyata (jago). Dalam fase inkubasi, peserta wajib mendampingi minimal satu UMKM selama satu bulan, dengan tugas mengawal digitalisasi usaha dari hulu ke hilir.
Program ini dijalankan bersama mitra kampus seperti Universitas Gadjah Mada, UI Vokasi, Universitas Raharja, dan Swiss German University, yang mengintegrasikan pelatihan ini dalam program magang mahasiswa, pengabdian masyarakat, atau SKPI. Di luar kampus, peserta juga berasal dari relawan komunitas ekonomi desa, fasilitator koperasi, dan alumni pelatihan kewirausahaan.
Hingga pertengahan tahun 2025, lebih dari 1.000 peserta telah mendapatkan sertifikat kompetensi dari program ini. Sebagian besar langsung terlibat dalam program pendampingan yang dikelola oleh dinas koperasi daerah, kementerian, ataupun perusahaan swasta yang menjalankan program inkubasi UMKM binaan.
“Peserta yang lulus dari program ini tidak hanya pegang sertifikat, tapi sudah punya pengalaman lapangan. Jadi ketika ditugaskan untuk mendampingi UMKM, mereka tidak lagi canggung atau bingung harus mulai dari mana,” jelas Rachmat.


