Ekspansi Kopi Lokal: TUKU Tembus Pasar Global dari Cipete ke Amsterdam
INFO OPPORTUNITY.ID– Budaya minum kopi di Indonesia sudah lama mengakar. Dari obrolan santai di warung kopi pinggir jalan hingga kedai kopi modern yang kini menjamur di berbagai kota, semua mencerminkan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap secangkir kopi.
Namun dalam satu dekade terakhir, wajah industri kopi berubah. Hadirnya kedai kopi modern dengan desain bersih, pelayanan ramah, dan rasa kelas dunia turut membentuk ekspektasi baru konsumen. Salah satu pelopornya: Kopi TUKU, merek lokal yang lahir dari kios mungil 16 meter persegi di Cipete, Jakarta Selatan.
Tepat di usia ke-10, PT Karya Tetangga TUKU mencatat tonggak pertumbuhan yang mengesankan. Dengan pertumbuhan 365 persen dan CAGR laba bersih 141 persen dalam tiga tahun terakhir, TUKU mengukuhkan posisinya sebagai salah satu brand kopi lokal dengan pertumbuhan tercepat dan paling berkelanjutan di Indonesia.
“TUKU adalah contoh nyata bahwa bisnis bisa tumbuh besar tanpa kehilangan nilai-nilainya,” ujar Aryo Widiwardhono, Komisaris Utama PT Karya Tetangga TUKU, dalam perayaan “Satu Dekade Bertetangga”, Senin (30/6/2025) di Cipete.
Ekspansi Lokal & Global: Dari Cipete ke Amsterdam
Kini, TUKU mengelola:
-
1.040 barista
-
72 cabang di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Malang, dan Yogyakarta
-
78.000 gelas kopi terjual per hari
Tahun ini, ekspansi besar tengah disiapkan ke Bali dan Amsterdam, menandai debut TUKU di panggung global.
“Kami datang bukan hanya untuk membuka toko, tapi membawa nilai-nilai yang sejak awal kami jaga,” ungkap Andanu Prasetyo, CEO dan Founder TUKU.
Membangun Ekosistem Kopi dari Hulu hingga Hilir
Tidak hanya fokus pada ritel, TUKU juga menanamkan akar bisnis di sisi hulu. Melalui unit Beragam, TUKU menjalin kemitraan langsung dengan:
-
630 petani kopi
-
275 petani aren
Tak berhenti di situ, TUKU meluncurkan program Bersemi, inisiatif agroforestri yang telah menanam 5.000 pohon di tiga wilayah konservasi, sebagai bagian dari komitmen terhadap kelestarian lingkungan.
“Kami membangun TUKU dengan semangat gotong royong dari hulu sampai hilir,” jelas Vella Siahaya, Chief Experience Officer TUKU.
Bisnis Kopi, Bisnis Manusia
Kesuksesan TUKU tak hanya diukur dari angka, tapi juga dari dampak ke dalam. Survei internal mencatat:
-
eNPS (Employee Net Promoter Score): 73 – tergolong sangat tinggi
-
94% karyawan merasa TUKU memberi dampak positif bagi pengembangan diri
-
Tingkat turnover hanya 3%
Melalui lini bisnis TOSERBAKU hingga F&B group SUKA (TOHO, Futago, Minarwati), TUKU membangun ekosistem yang mengangkat nilai keseharian, bukan sekadar menjual produk.
“Selama masih ada tetangga yang bisa disapa, dan cerita yang bisa dibagi, kami akan terus berjalan. Dengan kopi, dengan hati,” pungkas Vella.


