BPOM Dorong Inovasi Kosmetik Berbasis Riset Lewat Kolaborasi ABG
INFO OPPORTUNITY.ID-Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan komitmennya dalam memperkuat pengawasan produk kosmetik nasional sekaligus mendorong inovasi berbasis riset ilmiah melalui kolaborasi Academia, Business, and Government (ABG). Komitmen ini disampaikan dalam ajang Nosé Innovation Day yang diselenggarakan oleh PT Nosé Herbal Indo di Kirana Two Tower, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (23/2/2026).
Mengusung tema “Strengthening Innovation through Academic-Business-Government Collaboration”, kegiatan tersebut menjadi forum strategis untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam membangun industri kosmetik dan wellness nasional yang inovatif, patuh regulasi, dan memiliki daya saing global.
Dalam kesempatan itu, Kepala BPOM RI Taruna Ikrar meresmikan Nosé Innovation Center, sebuah fasilitas riset yang diharapkan menjadi model pengembangan produk kosmetik dan obat tradisional berbasis sains di Indonesia.
Taruna menegaskan bahwa setiap produk kosmetik wajib memenuhi tiga pilar utama, yakni keamanan, khasiat (efikasi), dan kualitas.
“Semua harus berbasis ilmiah, bukan sekadar klaim pemasaran. Klaim tanpa bukti adalah over claim. Setiap parameter harus terukur dan memiliki dasar scientific,” tegasnya.
ABG Jadi Fondasi Kemandirian Industri Kosmetik
Menurut Taruna, pendekatan ABG merupakan strategi penting untuk memperkuat kemandirian Indonesia di sektor obat, makanan, dan kosmetik. Kolaborasi akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah diyakini mampu melahirkan produk unggulan yang aman, berkualitas, dan berdaya saing global.
“Indonesia memiliki kekayaan bahan baku alam, SDM unggul, serta lembaga riset yang kuat. Dengan inovasi, kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus pemain terhormat di pasar global,” ujarnya.
Dalam pengawasan kosmetik, BPOM menerapkan sistem pre-market dan post-market. Tahap pre-market meliputi riset, pengembangan, perizinan, produksi, hingga distribusi. Sementara post-market dilakukan melalui pengawasan setelah produk beredar. Penerapan sistem notifikasi ASEAN bahkan mempercepat proses izin edar dari sebelumnya tiga bulan menjadi sekitar tiga hari, meski BPOM tetap menindak tegas pelanggaran, termasuk kosmetik berbahaya yang mengandung merkuri.
Industri Kosmetik Tumbuh, Riset Jadi Kunci Nilai Tambah
Dari sisi ekonomi, industri kosmetik nasional menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan. Nilai industri pada 2025 tercatat mencapai Rp138 triliun, naik dari Rp110 triliun pada 2024, dan diproyeksikan menembus Rp158 triliun pada 2026. Saat ini terdapat lebih dari 300 ribu nomor izin edar kosmetik, meski puluhan produk terpaksa ditarik karena melanggar regulasi.
Indonesia memiliki sekitar 31 ribu spesies tanaman, namun pemanfaatannya dalam produk berbasis riset masih terbatas. Dari sekitar 20 ribu produk herbal berizin, baru 71 produk yang meningkat statusnya menjadi obat herbal terstandar berbasis uji klinis. BPOM berharap keberadaan Nosé Innovation Center mampu meningkatkan produk berbasis riset hingga 10–20 persen dalam beberapa tahun ke depan.
Vice-CEO PT Nosé Herbal Indo, Sri Rahayu Widya Ningrum, menegaskan bahwa Nosé Innovation Day merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem inovasi nasional.
“Melalui Nosé Innovation Center, kami mempercepat pengembangan kosmetik berbasis bahan lokal Indonesia yang unggul, aman, dan sesuai regulasi,” ujarnya.
Selama enam tahun terakhir, PT Nosé Herbal Indo telah menjalin kolaborasi riset dengan sejumlah universitas terkemuka dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Acara ini juga diramaikan dengan Nosé Innovation Expo, yang menampilkan ekstrak tanaman lokal hasil riset, teknologi Nosé AI, serta pemberian Nosé Award kepada mitra universitas dan brand partner.
Sebagai perlindungan konsumen, BPOM kembali mengingatkan masyarakat untuk menerapkan prinsip Cek KLIK—Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin Edar, dan Cek Kedaluwarsa—sebelum membeli produk kosmetik.
Peluang Bisnis: Kosmetik Riset Jadi Ladang Emas Baru
Penguatan regulasi dan kolaborasi ABG membuka peluang bisnis besar di sektor kosmetik nasional, antara lain:
-
Brand Kosmetik Berbasis Riset Lokal
Produk dengan klaim ilmiah dan bahan alam terstandar memiliki nilai jual lebih tinggi dan kepercayaan pasar yang kuat, baik di dalam maupun luar negeri. -
Jasa R&D dan Laboratorium Kosmetik
Kebutuhan uji keamanan, efikasi, dan kualitas mendorong tumbuhnya bisnis laboratorium, maklon riset, serta konsultan regulasi BPOM. -
Ekstraksi dan Hilirisasi Bahan Alam
Kekayaan biodiversitas Indonesia membuka peluang usaha di bidang ekstrak aktif tanaman, mulai dari bahan baku hingga active ingredient siap pakai. -
Teknologi dan AI untuk Kosmetik
Penggunaan AI dalam formulasi, prediksi tren, hingga personalisasi produk menjadi ceruk bisnis baru yang bernilai tinggi. -
Ekspor Kosmetik Patuh Regulasi
Dengan sistem notifikasi ASEAN dan standar BPOM yang diakui, produk kosmetik Indonesia berpeluang besar menembus pasar regional dan global.
Melalui kolaborasi ABG dan inovasi berbasis riset, Nosé Innovation Day diharapkan menjadi katalis bagi transformasi industri kosmetik dan wellness nasional menuju ekosistem yang berkelanjutan, kredibel, dan bernilai ekonomi tinggi.


