Bangun Ekosistem Reseller, Lina Sukijo Tumbuhkan Modest Fashion Berbasis Komunitas
INFO OPPORTUNITY.ID-Di tengah ketatnya kompetisi industri modest fashion nasional, Lina Sukijo memilih jalur berbeda dalam mengembangkan brand miliknya. Alih-alih mengandalkan penjualan langsung atau ekspansi agresif ke ritel modern, pendiri label Lina Sukijo (LS) ini justru menempatkan jaringan reseller sebagai pilar utama distribusi.
Selama tujuh tahun terakhir, LS secara konsisten mengembangkan model bisnis berbasis kemitraan. Seluruh penjualan difokuskan melalui reseller yang tersebar di berbagai daerah, tanpa membuka toko fisik berskala besar. Hingga 2026, jumlah reseller aktif telah melampaui 100 orang di berbagai kota di Indonesia.
“Sejak awal berdiri, kami tumbuh bersama reseller. Mereka bukan sekadar penjual, tetapi bagian dari sistem perusahaan. Mereka adalah ujung tombak brand ini,” ujar Lina.
Pendekatan tersebut terbukti menciptakan loyalitas tinggi. Dalam ajang Indonesia Fashion Aesthetic (IFA) 2026, sekitar 50–70 reseller hadir langsung. Menariknya, hampir tidak ada mitra yang menghentikan kerja sama sejak awal bergabung. Bahkan, sebagian reseller berkembang hingga mampu membuka butik resmi di wilayah masing-masing.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Pasar
Di balik strategi ini, Lina membawa visi pemberdayaan ekonomi. Ia ingin muslimah—terutama ibu rumah tangga yang memiliki ketertarikan pada dunia fashion—tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pelaku usaha mandiri.
“Yang kami bangun bukan sekadar transaksi jual beli. Kami ingin menciptakan ekosistem ekonomi, di mana perempuan bisa berdaya dan bertumbuh bersama brand,” jelasnya.
Model distribusi berbasis komunitas ini juga berdampak langsung pada kinerja penjualan. Secara rata-rata, LS menargetkan penjualan lebih dari 10.000 item setiap bulan, yang berasal dari lini custom maupun ready to wear.
Periode Ramadan menjadi puncak permintaan. Pada momen tersebut, penjualan bisa melonjak hingga lima sampai enam kali lipat dibandingkan bulan reguler, bergantung pada kapasitas produksi.
Karena mengedepankan desain custom, LS tidak memproduksi dalam volume masif seperti brand mass market. Namun untuk lini ready to wear, produksi tetap mampu mencapai ribuan unit per koleksi.
Gema Rayya: Kelembutan yang Menguatkan
Dalam perhelatan IFA 2026, Lina Sukijo memperkenalkan koleksi terbarunya bertajuk Gema Rayya. Koleksi ini menjadi refleksi tentang perempuan yang menemukan kekuatan dalam kelembutan—sebuah narasi yang diterjemahkan melalui permainan cahaya, warna, dan tekstur.
Inspirasi visualnya terinspirasi dari transisi cahaya pagi: embun yang memantulkan sinar matahari pertama. Kesan lembut terasa dominan, namun tetap menghadirkan daya tarik yang tegas dan berkelas.
Palet warna soft menjadi benang merah koleksi ini, mulai dari pink yang lembut, butter yellow yang hangat, sage bernuansa alami, hingga lilac yang romantis. Kombinasi warna tersebut menciptakan harmoni visual yang tenang sekaligus elegan.
Dari sisi material, jacquard dipilih untuk memberi struktur dan dimensi mewah. Organdy sutera serta tulle menghadirkan efek transparansi yang ringan dan ethereal, sementara sequin dan detail kristal menambahkan kilau halus pada setiap gerakan busana.
Sebagai label modest fashion yang identik dengan gaya elegan dan glamor, Lina Sukijo tetap konsisten menampilkan sentuhan mewah melalui aplikasi kristal Swarovski, yang memperkaya karakter setiap rancangan.
Siluet Tegas dalam Bingkai Modest
Total 13 look ditampilkan dalam koleksi Gema Rayya, terdiri dari 10 tampilan model dan tiga tampilan muse spesial: Adelia Pasha, Arumi Bachsin, dan Maya Erina.
Siluet A-line dan X-line mendominasi keseluruhan koleksi, dipadukan dengan eksplorasi dress dan outerwear yang tetap menjaga prinsip modest, namun hadir dengan struktur yang kuat dan modern.
Melalui strategi bisnis berbasis komunitas serta konsistensi desain yang berkarakter, Lina Sukijo membuktikan bahwa pertumbuhan brand tidak selalu harus ditempuh dengan jalur konvensional—melainkan melalui kolaborasi, pemberdayaan, dan visi jangka panjang.


